Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 18 April 2010

Musim Hujan

Teman-teman, sudah beberapa bulan ini Insan Cendekia dilanda musim hujan. Mungkin sebagian dari kalian menganggap musim hujan sebagai berkah, tetapi ada juga yang menganggap musim hujan sebagai bencana. Betapa tidak, gara-gara musim hujan, kita disuruh Pak Ahmad membeli payung. Bayangkan teman-teman! Payung!!! Gara-gara musim hujan, mau tidak mau kita juga harus rela basah kuyup jika hendak pergi kemana-mana, bukan karena mandi, juga bukan karena gosok gigi, tapi karena kita terkena air hujan (%$@%#*&). 

Well, terlepas dari semua itu, ternyata hujan itu ada penyebabnya, ada yang membuat, dan ada yang merencanakan (kayak proker aja). Menurut kepercayaan bangsa Nozomika, hujan diatur oleh seorang dewi hujan yang mereka percaya bisa menciptakan hujan sekaligus menghalangi terjadinya hujan di suatu tempat. Mereka biasa menyebutnya Ratih Kumalanimbus, Sang Dewi Hujan (Ratih Kumalanimbus, The Goddess of Rain). Menurut mereka, Ratih Kumalanimbus bisa membuat awan kumalanimbus (orang Jawa biasa menyebutnya sebagai awan kumulonimbus) yang mereka percaya merupakan awan penyebab terjadinya hujan. 

Menurut Wadda, seorang pendeta sekaligus ahli Geografi bangsa Nozomika, awan kumalanimbus eh... kumulonimbus eh... atau mbus-mbus apalah itu... adalah awan besar yang berkembang secara vertikal berbentuk seperti gunung atau menara dengan ketinggian antara 0,5 sampai 18 km di atas permukaan laut. Pada bagian atas awan kumalanimbus eh... kumulonimbus eh... atau mbus-mbus apalah itu... berserat dan sering menyebar. Awan ini mengandung tetes hujan yang besar sehingga dapat menimbulkan terjadinya hujan secara tiba-tiba. (mohon diingat, barangkali keluar pada soal UN Geografi tahun ini) 

Sekarang, bagaimana dengan kita sendiri, umat Islam? Seperti yang kita ketahui bahwa semua fenomena alam, termasuk hujan, adalah Allah yang mengaturnya. Kita tidak bisa menyebutkan bahwa Ratih Kumalanimbuslah yang mengatur terjadinya hujan di muka bumi ini (maap ye Tih, gue nggak bermaksud nyakitin hati lo. Tapi mau gimana lagi, lha wong yang ngatur hujan di bumi itu Allah kok. Lo juga harus percaya ye). Sebagai seorang mukmin, kita harus percaya bahwa Allah-lah yang mengatur semua yang ada di alam semesta ini. So, gimana menurut kalian?

Minggu, 07 Februari 2010

Jayus, Esensi Yang Disalahgunakan

Akhir-akhir ini, komunitas Nozomika sedang dikejutkan oleh penemuan tiga spesies makhluk hidup baru. Ketiga makhluk ini memang terlihat aneh. Dilihat dari segi manapun, baik itu segitiga maupun segiempat, ketiga spesies ini menyerupai manusia pada umumnya, mulai dari bentuk tangan, kaki, badan, wajah, sampai cara berpikirnya pun sama. Berbeda dengan spesies Pitchecantropus erectus yang cara berjalannya masih agak membungkuk, mereka tergolong kerabat dekat Homo sapiens karena sudah bisa berjalan tegak bersambung seperti layaknya tulisan. Ketiga spesies ini diberi nama Firdaus rainebagus, Arifus mlayunebanter, dan Amarulus ndageltenan.

Prof. Dr. Garda Yulada Asyuhur (nama samaran), guru besar teknik kimia ITB, pertama kali menemukan ketiga spesies ini ketika dia sedang makan otak-otak di warung Mpok Minah. Ketika itu, ia merasa terjayusi oleh kata-kata rekannya, Prof. Dr. Aminul Fikri (nama samaran juga), sampai keluar ingusnya. Merasa tidak terima (karena ingusnya terbuang sia-sia), Garda melakukan penelitian mengenai reaksi nuklir di laboraturium pribadinya. Ia mengamati reaksi nuklir yang terjadi pada suatu zat radioaktif dan tanpa sengaja radiasi akibat reaksi tersebut mengenai tubuhnya. Sel-sel tubuh Garda berdiferensiasi membentuk tiga organisme baru dengan spesies yang berbeda-beda.

Ketiga spesies tersebut masing-masing mempunyai karakteristik yang unik. Firdaus rainebagus mempunyai paras yang ganteng. Tak heran banyak organisme lain, seperti Pasteurella pestis dan Fasciola hepatica tergila-gila padanya. Arifus mlayunebanter mempunyai kemampuan untuk berlari cepat. Usain Bolt, peraih medali emas Olimpiade Beijing asal Jamaika, mengakui kehebatan Arifus sebagai organisme yang mampu berlari. Lain halnya dengan Amarulus ndageltenan. Ia memiliki kemampuan untuk melawak melebihi siapapun. Kemampuannya sudah diakui oleh tiga pelawak legendaris yang juga anggota grup lawak “Warkop”, yaitu Indro L. Brugmann, Leismania Donovani, dan Kasino Deh Lu.

Walaupun ketiga spesies ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda, mereka juga memiliki satu persamaan, yaitu ngejayus. Tak heran jika seluruh anggota Nozomika saat ini menjadi “super jayus”, seperti Faruq, Shobar, Yono, Subhi, dan masih banyak lagi. Dimas, laki-laki yang sempat digembor-gemborkan sebagai calon pemegang tahta Raja Jayus pun tak ikut ketinggalan. Bahkan, Fattah, sang ketua angkatan Nozomika sendiri juga ikut terkena imbasnya. Lalu, bagaimana kelangsungan hidup angkatan Nozomika nantinya? Akankah Nozomika menjadi angkatan terjayus sepanjang sejarah Insan Cendekia? Apakah peradaban Nozomika akan berubah menjadi peradaban Jayusmika?

Teman-teman, cerita di atas hanyalah fiksi belaka. Kenyataan yang sebenarnya terjadi adalah banyak orang tidak tahu esensi dari jayus itu sendiri. Banyak orang mensalahtafsirkan definisi dari jayus, sehingga akhir-akhir ini banyak orang menyalahgunakannya. Contohnya, jayus digunakan sebagai sarana pemuas nafsu, mengandung kata-kata kotor dan tidak senonoh, sehingga masyarakat tidak bisa menerima jayus sebagai bagian dari nilai dan norma hidup mereka. Lantas, apa sebenarnya esensi dari jayus itu sendiri?

Jayus merupakan suatu bagian dari kreatifitas seseorang yang disalurkan melalui media tertentu dengan maksud untuk menciptakan suasana kondusif bagi kelangsungan kegiatan masyarakat. Jadi, jayus perlu dilakukan apabila suasana dalam masyarakat mulai suram dan memerlukan penyegaran. Tidaklah bijak jika jayus digunakan untuk menghina seseorang, sebagai pemuas hawa nafsu, atau sekedar ingin melucu. Jika ingin mengeluarkan jayus, maka jayuslah dengan sebenar-benar jayus.

Hukum Kekekalan Jayus I:
“Jayus tidak dapat diciptakan dan tidak pula dapat dimusnahkan, tetapi jayus dapat berubah dari bentuk satu ke bentuk lainnya.”(Fibronacci Leonardo da Vista, tokoh jayus)